Rabu, 13 Juli 2011

Takengon: Kota 'mangkuk' di Aceh Tengah


Takengon sungguh suatu kota yang berpanorama alam nan indah. Takengon merupakan ibukota kabupaten Aceh Tengah, berbatasan dengan kabupaten Bener Meriah di sebelah utara. Kota ini begitu dingin karena berada di ketinggian 200-2600 di atas permukaan laut (dpl). Beberapa objek wisata yang memukau pun ada disana, seperti danau laut tawar, gua putri pukes, bintang, air terjun Mengayang, pantan terong, pasar bawah, pusat kerajinan tangan Aceh, dll.

Alhamdulillah pada Kamis, 11 Juli 2011 kami berlima: Saya, Azmi, Suhendra, Yofli, dan Chaira memulai petualangan di kota tsb.

Hari pertama

Pada hari pertama sambil menikmati hawa sejuk dan hembusan angin gunung yang sepoi-sepoi kami mengelilingi sebagian kota dengan berjalan kaki. Di pinggir danau laut tawar, kami menemukan beberapa ekor kuda yang tengah asik makan sisa batang padi setelah panen. Tak ingin kehilangan kesempatan berfoto ditemani seekor kuda berlatar belakang danau laut tawar.

Hari kedua

Kami ditemani tiga orang teman, yaitu Ainul fadlan, Imbang, dan kak Ida. Rute perjalanan kali ini adalah danau laut tawar yang begitu indah, di pinggir danau terdapat gua putri pukes yang didalamnya terdapat patung seorang putri dan suaminya, beberapa arca, dan perkakas batu. Menurut mitos suku Gayo, putri pukes menjadi batu karena menoleh ke belakang dalam perjalanan mengikuti suaminya setelah mereka menikah. Kesetiaan sang suami membuat ia pun berdo’a agar dijadikan batu supaya dia tetap bisa tinggal bersama istrinya di dalam gua tersebut.

Setelah dari gua putri pukes, kami singgah ke danau laut tawar untuk menikmati keindahan danau vulkanik tsb. Sungguh ciptaan Allah yang maha sempurna. Pada tahun 2008, ditemukan sebuah bom dengan berat 1,5 ton oleh seorang atlet selam POSSI Aceh Tengah di dalam danau. Kemungkinan bom itu merupakan sisa peninggalan PD II. Hingga hari ini bom tsb belum berhasil diangkat ke permukaan.

Tempat selanjutnya adalah air terjun Mengayang. Air terjun tiga tingkat yang berada di kaki bukit pinggir danau laut tawar. Air terjun berair jernih dan sejuk menjadi tempat objek wisata yang tak bisa dilewatkan.

Hingga akhirnya perjalanan yang menyenangkan ini ditutup dengan berendam di kolam pemandian air hangat Bandar Lampahan. Berendam di air hangat setelah aktifitas seharian me-rilekskan badan dan pikiran.

Hari ketiga

Tentunya tidak afdhol, jika tidak membawa buah tangan apabila kita telah mengunjungi suatu tempat. Maka pada hari terakhir ini, kami berburu buah tangan berupa buah alpokat dan berbagai kerajinan tangan bermotif Aceh, mulai dari rencong, tas, dompet, gantungan kunci, hingga baju kaos bermotifkan pintu Aceh.

Alhamdulillah, sungguh suatu kesempatan yang diberikan Allah swt kepada kita hingga kita dapat mengunjungi dan mengagumi semua ciptaan Allah ini. Kami ucapkan terima kasih kepada segenap saudara/i dari teman kita Chaira, atas semua bantuan dan kebaikannya. Hanya Allah swt yang dapat membalas semua kebaikan tsb. Semoga dilain waktu kita dapat liburan di tempat yang lebih indah lagi, amin.

4 komentar:

nuri haruna mengatakan...

waw,.
Kami juga udh ksna,.
;)
bnar2 indah,.

Eko Alperio Almi mengatakan...

ya yadha, mantap kotanya :)
pengen kesana lagi

zulfikar aemka mengatakan...

takengon !!!
beutifull gan.....

yofly yunanadar mengatakan...

wah saya aktor utamanya ini hahahaha

Posting Komentar

 
;