Senin, 27 Februari 2012 0 comments

Takengon: Dari Ikan Depik ke Perkebunan Apel

Apel Takengon










Assalamu'alaikum teman, alhamdulillah setelah masa liburan 3 hari (21-23 Januari 2012) di kota Takengon, perjalanan kali ini menghasilkan pengalaman yang begitu mengesankan. Tentunya teman-teman masih ingat dengan perjalananku yang lalu di Takengon: Kota Mangkuk di Aceh Tengah . Nah perjalanan kali ini kami --Aku, M. Fikri Fadli, Ainul Fadlan, Bang Oki Satria, Bang Andi, dan Nanda-- mengunjungi perkebunan apel di kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Kami bersama Pak Siswanto
Pak Siswanto, pria kelahiran kota Batu, Malang ini  memiliki perkebunan apel seluas 2,5 hectare. Pak Sis, begitu beliau akrab disapa, menerangkan kepada kami bagaimana jerih payah beliau untuk meyakinkan penduduk lokal bahwa tanah Aceh Tengah yang bersuhu dingin dapat ditumbuhi apel. Pengalaman pembenihan apel ini telah didapat Pak Sis sejak kecil, dimana orang tua beliau bermata pencarian sebagai petani apel di kota Batu, Malang, Jawa Timur.
Pak Siswanto beserta istri
Usaha pembenihan apel ini dimulai sejak beliau pindah dari Batu ke Aceh Tengah, 8 tahun silam. Pembenihan apel dilakukan Pak Sis dengan cara menyambung 2 tanaman apel: bagian akar dari tanaman apel lokal dan bagian atas tanaman apel dari kota Batu. Beliau mengatakan bahwa hasil dari tanaman apel tersebut cukup memuaskan, hingga saat ini  Pak Sis telah memanen kebun apelnya sebanyak 12 kali dengan hasil panen rerata per pohon hingga 70 kg. Saat ini beliau telah bekerjasama dengan pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Tengah khususnya untuk mengembangkan perkebunan ini. Beliau juga mengajak masyarakat lokal untuk membudidayakan tanaman apel terutama di wilayah dengan topografi mirip dengan wilayah Aceh Tengah.
Kelezatan tiada tara
Nah, masalah rasa, apel ini tidak kalah dengan rasa apel impor. Apel ini memiliki rasa renyah bagai keju yang khas (nyammi..) yang akan membuat saliva anda meluncur deras ketika membayangkannya :). Akhir perjalanan ini kami diundang oleh Pak Sis untuk mengikuti panen apel ke-13 pada medio Maret 2012. Semoga pada saat itu Allah swt meridhoi kami untuk mengikutinya, amin.
Rabu, 13 Juli 2011 2 comments

Takengon: Kota 'mangkuk' di Aceh Tengah


Takengon sungguh suatu kota yang berpanorama alam nan indah. Takengon merupakan ibukota kabupaten Aceh Tengah, berbatasan dengan kabupaten Bener Meriah di sebelah utara. Kota ini begitu dingin karena berada di ketinggian 200-2600 di atas permukaan laut (dpl). Beberapa objek wisata yang memukau pun ada disana, seperti danau laut tawar, gua putri pukes, bintang, air terjun Mengayang, pantan terong, pasar bawah, pusat kerajinan tangan Aceh, dll.

Alhamdulillah pada Kamis, 11 Juli 2011 kami berlima: Saya, Azmi, Suhendra, Yofli, dan Chaira memulai petualangan di kota tsb.

Hari pertama

Pada hari pertama sambil menikmati hawa sejuk dan hembusan angin gunung yang sepoi-sepoi kami mengelilingi sebagian kota dengan berjalan kaki. Di pinggir danau laut tawar, kami menemukan beberapa ekor kuda yang tengah asik makan sisa batang padi setelah panen. Tak ingin kehilangan kesempatan berfoto ditemani seekor kuda berlatar belakang danau laut tawar.

Hari kedua

Kami ditemani tiga orang teman, yaitu Ainul fadlan, Imbang, dan kak Ida. Rute perjalanan kali ini adalah danau laut tawar yang begitu indah, di pinggir danau terdapat gua putri pukes yang didalamnya terdapat patung seorang putri dan suaminya, beberapa arca, dan perkakas batu. Menurut mitos suku Gayo, putri pukes menjadi batu karena menoleh ke belakang dalam perjalanan mengikuti suaminya setelah mereka menikah. Kesetiaan sang suami membuat ia pun berdo’a agar dijadikan batu supaya dia tetap bisa tinggal bersama istrinya di dalam gua tersebut.

Setelah dari gua putri pukes, kami singgah ke danau laut tawar untuk menikmati keindahan danau vulkanik tsb. Sungguh ciptaan Allah yang maha sempurna. Pada tahun 2008, ditemukan sebuah bom dengan berat 1,5 ton oleh seorang atlet selam POSSI Aceh Tengah di dalam danau. Kemungkinan bom itu merupakan sisa peninggalan PD II. Hingga hari ini bom tsb belum berhasil diangkat ke permukaan.

Tempat selanjutnya adalah air terjun Mengayang. Air terjun tiga tingkat yang berada di kaki bukit pinggir danau laut tawar. Air terjun berair jernih dan sejuk menjadi tempat objek wisata yang tak bisa dilewatkan.

Hingga akhirnya perjalanan yang menyenangkan ini ditutup dengan berendam di kolam pemandian air hangat Bandar Lampahan. Berendam di air hangat setelah aktifitas seharian me-rilekskan badan dan pikiran.

Hari ketiga

Tentunya tidak afdhol, jika tidak membawa buah tangan apabila kita telah mengunjungi suatu tempat. Maka pada hari terakhir ini, kami berburu buah tangan berupa buah alpokat dan berbagai kerajinan tangan bermotif Aceh, mulai dari rencong, tas, dompet, gantungan kunci, hingga baju kaos bermotifkan pintu Aceh.

Alhamdulillah, sungguh suatu kesempatan yang diberikan Allah swt kepada kita hingga kita dapat mengunjungi dan mengagumi semua ciptaan Allah ini. Kami ucapkan terima kasih kepada segenap saudara/i dari teman kita Chaira, atas semua bantuan dan kebaikannya. Hanya Allah swt yang dapat membalas semua kebaikan tsb. Semoga dilain waktu kita dapat liburan di tempat yang lebih indah lagi, amin.

Sabtu, 28 Mei 2011 0 comments

Syair Sayyid Ahmad Hasyimi - R3W

Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus-meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di dunia atau di akhirat
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impiankan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemulian itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan
 
;